Howdy Hey-Ho!

It’s been a long time ago when I write my own last post here. I still have difficulties to write in English, that’s why I never post anything here. This blog is only become my space to reblogging any interesting post on WordPress.

This is not the only blog that I neglect. My primary blog which is written in Bahasa is also haven’t had any new post since July. Such a bad blogger eh? Just imagine how bad am I that only write 7 posts during 2015. And now it’s already November!

Hope I’ll write more post in my primary blog and here. I feel that my writing has improving since the last post.

Cheers!

Puasa Cinta Sesama Jenis

Makanya seks bebas disebut zina—padahal seks yang ga bebas (sambil ditodong senjata atau diikat tangan dan kaki diluar kemauan) bisa disebut perkosaan; yang menikah ndak punya anak disebut kelainan; yang ga nikah disebut perawan tua; yang ga punya anak lelaki suaminya disuruh kawin lagi, dan seterusnya.

Freedom! Still not loving police

Jadi begini. Sebelum meracau kemana-mana soal bertebarannya pelangi di sosmed, pertama-tama, saya justru berterima kasih sekali pada Obama, pemimpin raksasa dan polisi dunia yang sudah buka lapak perkawinan sejenis ini hingga dibicarakan dimana-mana. Perangkat media internasional sampai jadi punggawa: panel admin WordPress saja sampai jadi warna pelangi (asoy !). Yahoo juga mempersilahkan membernya yang engga setuju pelangi-pelangi hengkang dari akunnya. Pasar pelangi rame deh pokoknya. Saking ramenya, blok-blokán akun facebook pun tak terhindarkan. Itu biasa terjadi di kota-kota besar.

Mungkin eforia juga sih, apalagi asapnya dari AS. Apa-apa terkait AS laris manis di sini. Obama salah satunya, selain Mc Donald dan KFC tentu saja. Waktu Obama menyapa pemirsa Universitas Indonesia dengan “Terima kasih” dilanjutkan “Pulang kampung, nih” publik negeri ini gembiranya luar biasa. Serasa dihapus 120-an milyar dolar utang luar negerinya oleh AS.

Tapi eforia jenis yang ini memang jauh lebih penting ketimbang “pulang kampung, nih”…

View original post 1,273 more words

5 Productivity Tools That Will Change Your Life

Apps and tools to help procrastinator finishing their task.

Samantha Davis

This article was originally published on WiseLit.com. To view the original story, click here.

SamanthaDavis_ProductivityTools-750x400

Above cafeteria food, all-nighters, and bad roommates, lies one of the biggest problems in a college student’s life: procrastination.

Battling the lack of motivation is not an easy task. It requires determination and focus, things that many students are too exhausted to dig up.

Here’s a secret that helped me during my college years: there’s nothing wrong with getting a little help.

The following tools are not simply to-do lists – they turn unfinished work into achievable goals. Each app uniquely motivates and helps users get things done.

1.      Do It – Or Else

SamanthaDavis_Productivity1

The following apps employ the use of fear as a motivator. In Write or Die, the user must continue typing or face the consequences – either a popup box shaming you for your distraction or having to watch your work “unwrite” itself.

View original post 411 more words

10 Kalimat yang Jangan Pernah Diucapkan kepada Penulis

What not to say to a writer or an author. 🙂

 writer-rant-1

Berikut adalah daftar 10 kalimat yang sebaiknya jangan diucapkan ke penulis. ^_^

“Buku kamu baru terbit, ya? Aku minta satu ya, yang gratis tis tis! Boleh kan?”

1

Ngarep!

“Wah, sekarang kamu jadi penulis ya? Tulisin kisah hidup aku, dong!”

2

Hmmm…. hidup kamu enggak semenarik yang kamu bayangkan. Sori.

“Gue udah baca ceritalu. Lumayan bagus, tapi kalau endingnya diubah jadi begini dan begitu kayaknya tambah oke.”

3

Oke deh. Makasih.

“Eh, kalau menulis buku dapat royaltinya berapa sih? Hah? Segitu doang?”

4

Iya, emang cuma segitu doang! Terus elu mau ngajakin gue berantem? Gitu?

“Naskah kamu dikirim ke penerbit mana? Oh penerbit itu. Mereka kan penerbit kecil ya?”

5

So what?

“Buku kamu sudah pernah ada yang bestseller belum?

6

Belum ada dan aku masih tetap bahagia.

“Aku kepingin banget jadi penulis, tapi aku enggak pernah punya waktu untuk menulis.”

7

Helloooow, kami juga punya banyak kegiatan kok, dan kami masih punya waktu untuk menulis.

View original post 69 more words

Demagogi

“Debate is a method of thinking. The critical point is when the rhetoric began to slip. The demise point is when the dialectic is locked.”

Rubrik Bahasa

Rocky Gerung* (Majalah Tempo, 7 Jul 2014)

Debat bukan sabung ayam. Tapi kita telanjur menikmatinya begitu. Menunggu ada yang keok. Lalu bersorak, lalu mengejek. Hasrat ejek-mengejek inilah yang kini menguasai psikologi politik kita: mencari kepuasan dalam kedunguan lawan.

Debat adalah seni persuasi. Seharusnya ia dinikmati sebagai sebuah pedagogi: sambil berkalimat, pikiran dikonsolidasikan. Suhu percakapan adalah suhu pikiran. Tapi bagian ini yang justru hilang dari forum debat hari-hari ini. Yang menonjol cuma bagian demagoginya: busa kalimat. Pada kalimat berbusa, kita tak menonton keindahan pikiran.

View original post 661 more words